Pemrograman merupakan hal yang sudah tidak asing lagi bagi setiap orang, seolah setiap orang memang patut untuk mengetahui tentang hal ini, bahkan timbul keinginan untuk mempelajari seluk beluk tentang hal yang menakjubkan ini, terlebih lagi bagi mereka yang menggeluti studi atau pekerjaan yang berhubungan dengan komputer. Pemrograman seolah menjadi senjata utama bagi mereka, para “pendekar” komputer dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan komputer, baik itu dalam membangun sebuah aplikasi, program, atau sistem maupun dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang ada di dalamnya.
Pemrograman didasarkan atas bahasa pemrograman, yaitu sebuah bahasa atau kumpulan simbol – simbol atau sintaks yang berisi perintah – perintah atau instruksi – instruksi yang dimengerti oleh komputer dan dalam proses eksekusinya dilakukan melalui compiler serta dibantu oleh Integrated Development Enviroment (IDE). Berbagai bahasa pemrograman telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan komputer. Kita mengenal adanya bahasa pemrograman Assembly yang menjadi bahasa pemrograman generasi awal untuk pemrograman mesin (benbentuk simbol biner). Berlanjut dengan adanya bahasa pemrograman yang mulai dimengerti oleh manusia seperti FORTRAN, PASCAL, ADA, C/C++, Java, dan lainnya sebagainya. Kemudian sampai saat ini, kita mengetahui terobosan baru dalam pengaplikasian bahasa pemrograman, yaitu menggunakan Framework, seperti CodeIgniter, Zend, Play!, Laravel, dan lain sebagainya.
Dengan berkembangnya bahasa pemrograman yang semakin hari kian memudahkan kita untuk mempelajari pemrograman, setidaknya kita harus tahu bagaimana caranya kita untuk membuat suatu program atau sistem atau aplikasi. Secara garis besar, pemrograman dalam komputer terbagi atas dua cara, yaitu Pemrograman Prosedural (Procedural Programming) dan Pemrograman Berorientasi Objek (Object – Oriented Programming). Apakah sebenarnya yang mendasari perbedaan antara kedua cara ini?

Pemrograman prosedural merupakan pemrograman yang dilakukan dengan memberikan serangkaian perintah yang berurutan. Paradigma ini didasari oleh konsep mesin Von Newman (stored program concept) sekelompok tempat penyimpanan (memori), yang dibedakan menjadi memori instruksi dan memori data, masing-masing memori tersebut dapat diberi nama dan nilai, selanjutnya instruksi akan dieksekusi satu persatu secara sekuensial oleh sebuah proses tunggal.Dalam melakukan pemrograman jenis ini, algoritma sangatlah diperhatkan, dikarenakan source code yang dituliskan ke dalam IDE harus benar dan urut sesuai dengan algoritma yang digunakan. Salah sedikit saja, maka program yang dibuat tidak akan berjalan sesuai harapan. Maka dari itu, paradigma ini dikelompokkan ke dalam pemrograman yang bersifat Imperatif.
Pemrograman prosedural biasa digunakan untuk menangani masalah yang membutuhkan penyelesaian yang mudah atau sedang, sehingga algoritma dapat ditentukan dnegan mudah dan akurat. Karena menitikberatkan pada algoritma, maka hasil dari eksekusi atau goal dari source code-nya tidak bisa diketahui secara jelas atau bersifat implisit.

Berbeda halnya dengan pemrograman berorientasi objek (Object – oriented programming), pemrograman jenis ini merupakan salah satu paradigma pemrogramanyang berorientasikan kepada objek. Semua data dan fungsi di dalam paradigma ini dibungkus dalam kelas-kelas atau objek-objek. Paradigma ini ditemukan pada akhir tahun 1960-an seiring dengan diciptakannya bahasa pemrograman Simula oleh Nygaard dan Dahl dan dikelompokkan sebagai pemrograman yang bersifat Deklaratif.
Paradigma pemrograman ini dianggap lebih mudah dikarenakan model data yang diciptakan dapat merepresentasikan dunia nyata. Dengan menggunakan Class, kita dapat menciptakan objek – objek berdasarkan Class tersebut. Misalkan terdapat Class Makhluk Hidup, maka kita dapat membuat objek Manusia, Hewan, dan lain sebagainya. Bertolak belakang dengan pemrograman prosedural, algoritma pada pemrogaman berorientasi objek tidak terlihat secara jelas atau bersifat implisit. Namun, tujuan atau goal dari pemrograman ini dapat dilihat dengan jelas atau bersifat eksplisit.

Dengan perbandingan tersebut, kita mengetahui bahwa setiap paradigma tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing. Dengan demikian, maka kita dapat menggunakan paradigma manapun yang kita anggap paling mudah dan sesuai permasalahan yangakaan kita selesaikan. Keep Calm and Coding Happily.

Muhammad Fakhrurrozi Bimo Arfianto
Teknik Informatika 2014
Universitas Jenderal Soedirman

Sumber :

Paradigma Pemrograman

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemrograman

(dengan perubahan seperlunya)

Muhammad Fakhrurrozi Bimo Arfianto H1L014043 Teknik Informatika angkatan 2014 fakhrurroziarfianto@gmail.com Facebook : Muhammad Fakhrurrozi Bimo Arfianto Twitter : @fakhrurrozi_96